RSS

Asal Usul Natal

09 Dec

Tanggal sesungguhnya dari kelahiran Kristus tidak diketahui, tetapi 25 Desember dipilih karena hari itu bertepatan dengan festival-festival besar kafir dari berbaliknya tahun, pesta garis balik musim dingin baik Saturnalia Romawi dan Celtic (Indo Eropa) maupun Jerman. Gereja mengambil kesempatan untuk mengkristenkan festival-festival ini (sinkristisme).

Sumber-sumber ensiklopedia menyatakan, bahwa pada pertengahan abad 4 barulah Natal menjadi pesta yang diakui, dan tanggalnya telah ditentukan yaitu 25 Desember.

Sebenarnya, fakta-fakta seperti yang dinyatakan oleh Alkitab, bahwa gembala-gembala dan kawan dombanya di padang rumput pada malam hari, dan juga faktor-faktor lain menunjukkan bahwa kelahiran Kristus lebih sesuai pada bulan September atau permulaan Oktober.

Karena selama musim dingin, seperti pada akhir Desember, gembala dan kawan dombanya tidak akan berada pada padang terbuka tetapi di dalam ruangan musim dingin.

Pohon Natal menjadi pusat dari perayaan-perayaan Natal gereja, dan di sekitar itulah kisah kelahiran Kristus diceritakan atau digambarkan sedemikian rupa, sehingga Natal di-identifikasikan dengan pohon Natal atau sebaliknya.

Demikian juga sedikit diantara kita yang tahu mengapa pada mulanya sebuah pohon kemudian sebuah pohon fir (sanobar), sejenis pohon yang berdaun selalu hijau pada musim dingin, telah dipilih untuk perayaan-perayaan Natal.

Alkitab menjelaskan bahwa bangsa-bangsa penyembah berhala menyembah benda-benda alam atau sesuatu yang dibuat oleh manusia. Kita juga tahu bahwa hal ini adalah kekejian bagi Allah dan bahwa Dia melarang hal-hal ini dipergunakan oleh umat pilihanNya.

Pohon-pohon disembah oleh orang Druid, mereka mempunyai pohon-pohon oak keramat/suci. Bidat orang Druid adalah salah satu dari bidat-bidat yang tidak akan dikompromi oleh orang Romawi dan ini mungkin oleh karena praktek pengorbanan manusia oleh mereka. Dalam tahun 60 Masehi, pusat-pusat perkumpulan mereka dimusnahkan dan pohon-pohon keramat mereka (oak atau ék) dimusnahkan secara sistematis.

Bergerak ke Jerman, kita melihat suatu kebiasaan kafir yang berkaitan dengan penyembahan pohon dan penggunaan pohon-pohon dan dahan-dahannya untuk manfaat kepercayaan mereka. Mereka memakai dahan-dahan pohon sanobar untuk menghiasi rumah mereka pada perputaran tahun, yang jatuh pada tanggal 22 Desember, saat dimana siang hari lebih panjang, bertepatan dengan titik balik musim dingin. Dengan menggunakan dahan-dahan hijau, mereka menguatkan harapan mereka untuk kembalinya musim semi.

Pada abad ke 8, Santo Boniface, seorang misionari Devonshire yang datang ke Jerman, adalah orang yang pertama kali menghiasi sebuah pohon fir (sanobar) untuk menghormati bayi Kristus, dengan demikian ia mengganti pohon oak keramat dari orang Druid. Sejak abad 15 dan seterusnya, pohon-pohon Natal muncul di Jerman Selatan, dan kembali berasal dari penyembahan berhala pohon.

Mulai sejak itu, pohon Natal diperkenalkan ke negeri Eropah lainnya, sebagaimana itu menyebar pertama sekali melalui seluruh Jerman. Tetapi hanya sejak abad ke 17 dan seterusnya, pohon Natal menjadi tersebar luas dan muncul untuk pertama kali sebagai pohon terang dan sebagai pohon dari hadiah-hadiah. Ini diperkenalkan ke Britania Raya pada tahun 1841.

Pada abad ke 19 hal itu dapat diterima di Swedia. Kebanyakan gereja-gereja Protestan menerima pohon Natal sebagai bagian dari perayaan-perayaan Natal, walaupun orang-orang Puritan pada abad 17 menolak sama sekali untuk mengakui perayaan Natal, dan gereja Presbyterian di Skotlandia tidak mengakui perayaan Natal.

Gereja Roma Katholik sejak lama sekali, bahkan sampai belum lama berselang, menolak pohon Natal sebagaimana mereka tetap setia pada palungan Natal, yang menggambarkan kelahiran Kristus, yaitu suatu kebiasaan yang di perkenalkan oleh Santo Francis dari Asisi, seperti dikatakan bahwa ia yang membuat palungan yang pertama.

Hadiah-hadiah Natal juga ditukarkan sebagai bagian dari perayaan Natal, kebiasaan mana berasal pula dari pesta-pesta akhir tahun orang kafir, yaitu kebiasaan memberikan hadiah kepada satu sama lain. Hadiah-hadiah untuk anak-anak secara tradisi (dipercaya) diletakkan oleh Bayi Kristus atau oleh Santo Nikolas, uskup di Asia Kecil pada abad ke 4, yang menjadi orang suci (Santo) pelindung dari anak-anak.

Santo Nikolas telah berubah menjadi Santa Klaus – suatu sifat yang baik hati dengan janggut putih dan baju merah, yang mengendarai kereta luncur rusa kutub dan turun dari cerobong-cerobong asap untuk mengisi sepatu-sepatu atau kaos kaki yang ditinggalkan baginya diatas tungku perapian.

Nuansa magis Santa Klaus dari salju dan lonceng-lonceng kereta luncur, datangnya dari ceritera dongeng Skandinavia, tetapi baju merahnya dan topinya berasal dari penutup kepala dan turban merah tua dari uskup pada abad pertengahan.

Tukar menukar kartu Natal sekarang telah dilakukan secara universal, mulai muncul di sekitar tahun 1841, sebab beberapa orang yang terkenal telah terlambat menulis keinginan-keinginan hatinya bagi teman dan keluarganya.

Ia menciptakan kartu Natal itu, dan bertahun-tahun kemudian dunia telah mengambil alih kebiasaan ini, dan kita temui kartu-kartu Natal dengan berbagai ungkapan Natal, dan banyak di antaranya tidak menghormati kelahiran Kristus lagi, atau merayakan kelahiranNya, tetapi lebih menjadi ucapan ucapan sosial yang baik.

Tradisi Natal dari lampu-lampu dan lilin-lilin, tumbuhan menjalar ivy, dan mistletoe, dan bunyi nyala kayu bakar, asal mulanya dari festival kafir musim dingin. Bagi Eropah Utara, tumbuhan holly yang selalu hijau dan ivy, adalah simbol kehidupan selama matinya musim dingin, dan mistletoe adalah tanaman suci dari orang Druid. Lampu penerangan dan api juga merupakan bagian yang penting dari upacara-upacara penyembahan berhala: Ini mewakili kembalinya matahari.

Lagu-lagu Natal dimulai sejak usaha gereja untuk mengimbangi musik dan tarian dari pesta-pesta kafir. Kadar agamanya segera ditambah dan ditutupi oleh lagu-lagu (pesta) gembira dan lagu-lagu balada. Makanan (kue-kue) Natal berasal dari pesta-pesta abad pertengahan dan masing-masing daerah memiliki makanan khas tersendiri, untuk menjadi pusat perhatian dalam makan bersama.

Sejak abad ke 4 gereja telah memiliki segalanya tetapi berusaha keras untuk menggunakan kebiasaan-kebiasan kafir, dan menggantinya dengan pesta-pesta Kristen, tetapi juga menggunakan tanggal yang sama dan memelihara paling sedikit sebahagian kebiasaan kafir.

Adalah sungguh amat mudah untuk menjangkau orang supaya menerima Kekristenan dengan cara itu, dari pada menghentikan atau melarang tradisi-tradisi penyembahan berhala ini. Tujuan pengudusan dari hal-hal kafir ini telah sering digunakan oleh para pemuka agama dari segala abad.

Gereja Roma Katholik sangat toleransi dalam hal ini, dan orang-orang Budha dengan mudah menerima Kekristenan bila mereka tetap dapat memelihara patung-patung Budha, Kwam In, dan dewa-dewi Cina, dan hanya menerima Kristus sebagai tambahan.

Yang harus paling disalahkan karena praktek-praktek kompromi atau interpelasi ini, adalah raja Constantine yang secara resmi melembagakan Kekristenan dan begitu banyak orang menjadi “Kristen” yang tidak benar-benar bertobat atau tidak menguduskan dirinya dari kebiasaan-kebiasaan dan tradisi kafir mereka.

Mereka bukan lagi orang yang dipisahkan bagi Tuhan, dan kita melihat dalam abad-abad setelah itu pola yang sama terulang kembali, sewaktu Kekristenan menerima dan menggunakan tradisi kekafiran untuk tujuan mereka.

Bersamaan dengan itu kita melihat gereja menjadi lebih tidak setia (murtad), dan kehilangan kuasanya di dunia. Alkitab jelas sekali memperingatkan kita untuk keluar dari antara kekafiran, dan tidak mengambil alih sesuatu apapun dari praktek-praktek mereka agar tidak terjerat oleh mereka.

Menarik sekali untuk dicatat bagaimana siapnya pohon Natal diterima oleh dunia bila kita lihat di dalam klub-klub malam (night club), hotel-hotel, restoran-restoran dan bahkan di negara-negara seperti Jepang, dimana kebanyakan orang Jepang memiliki pohon Natal di rumah mereka walaupun mereka tidak akan mau menerima, andai kata kita tawarkan Kristus kepada mereka.

Mereka hanya menyukai pohon dan ornamennya (perhiasan) yang berkilau sebagaimana kita semua tahu bahwa perhiasan-perhiasan Natal adalah hasil utama dari produksi export Jepang. Di Jerman, 15 juta pohon sanobar (fir) tumbang dalam setahun untuk merayakan Natal.

Dua hari setelah dunia merayakannya dengan segala macam hiasan seperti itu, pohon-pohon yang ditebang ini tersebar di tepi-tepi jalan, sehingga pemungut sampah harus bekerja lembur untuk membersihkan jalan-jalan dan sampah-sampah kaleng dari semua serakan sampah-sampah Natal. Seperti pagi hari sehabis pesta, Natal adalah saat dimana semua orang mabuk dengan keharusan untuk memberi dan menerima hadiah-hadiah.

Ini adalah suatu demam yang menangkap dan menjerat banyak orang Kristen dan orang dunia, terutama dunia bisnis mengambil keuntungan dari itu, sebagaimana bisnis itu menghasilkan uang berjuta-juta yang dibelanjakan untuk hadiah-hadiah, hanya untuk memenuhi suatu kebiasaan yang didasarkan pada tradisi kafir. Dimana Yesus ditonjolkan ? Apakah InjilNya dinyatakan melalui pengeluaran uang ini ?

Apakah orang-orang kafir terjangkau, apakah jiwa-jiwa yang terhilang diselamatkan oleh jutaan uang yang dibelanjakan untuk Natal yang tidak jelas itu ? Hanya Allah sajalah yang tahu berapa banyak uang yang telah diboroskan oleh orang-orang Kristen yang seyogianya dapat digunakan dan diberikan bagi perkembangan dan kemajuan Injil.

Berapa banyak gereja yang seharusnya dapat dibangun dari dana yang dibelanjakan untuk hadiah-hadiah sekarang ini, sebaliknya berapa banyak orang miskin yang seharusnya dapat ditolong ? Raja Mamon, atau bisnis besar, dengan kata lain, dunia telah mengambil alih Natal seutuhnya dan menggunakannya bagi kepentingan mereka. Secara rata-rata 30 % atau lebih dari penjualan tahunan dalam perdagangan eceran dilaksanakan di sekitar hari Natal.

Orang-orang dalam lingkungan keluarga dan teman-temannya dibawah ikatan yang kuat/berkewajiban untuk memberi satu sama lain hadiah-hadiah Natal, sering kali barang-barang yang hampir tidak ada gunanya bagi si penerima.

Kesimpulannya, adalah mengejutkan bila melihat jumlah uang yang sangat besar yang disia-siakan (diboroskan) untuk pohon Natal, dekorasinya, hadiah-hadiah, makanan dan minuman, dsb., dan bila kita perkirakan bahwa setiap orang Kristen hanya membelanjakan untuk semuanya ini rata-rata US$ 100 setiap tahun.

Maka lebih dari satu milyard orang Kristen akan mem-belanjakan lebih dari 100 milyard US Dollar untuk ini, tetapi mungkin sekali angkanya akan lebih besar dari pada itu, pada beberapa hari di sekitar Natal;

Dan jika di lain pihak kita menimbang apa yang oleh semua gereja di dunia disatukan dalam pengeluaran uang bagi pelayanan misi, jumlah itu tidak akan lebih banyak dari pecahan sangat kecil dari jumlah ini, yang oleh sumber-sumber yang dapat dipercaya menaksir kira-kira 3 – 3,5 milyard US Dollar.

Jadi hanya sekitar 3 – 3,5 %. Apakah iblis tidak mendapat keuntungan dengan taktiknya, jika ia tak dapat melawannya, ia akan ikut bersamanya dan menggunakan itu bagi kepentingannya.

Barangkali sebaiknya kita tidak mendengar hal-hal ini, mungkin kita sebaiknya menutup telinga dan hati kita untuk membicarakan itu, tetapi sudah waktunya bagi orang Kristen di saat Natal dan melawan kebiasaan-kebiasaan dan perayaan-perayaan mereka. Sudah waktunya bagi kita untuk bertanya pada Allah apa yang Ia inginkan pada kita untuk menghabiskan Natal-Natal kita.

Inilah waktunya bagi kita untuk berani menolak kebiasaan-kebiasaan dan yang tidak memuliakan Kristus, dan yang tidak membawa jiwa kepadaNya, tetapi malah melayani dunia bisnis dan pada dunia yang penuk dosa yang tidak mengenalNya.

Bila kita meneliti pertanyan-pertanyaan ini dan kita dipererhadapkan dengan Natal, baiklah kita bertanya pada diri kita apa yang dikatakan oleh Firman Allh tentang hal itu.

 
Comments Off on Asal Usul Natal

Posted by on December 9, 2011 in History

 

Comments are closed.

 
%d bloggers like this: