RSS

I Just Wanna Say ‘I Love You’

04 Nov



“Hei. Apa kamu melihat Mandy? Dosen mencarinya.” Tanya seorang gadis kepada temannya.
“Kamu seperti tidak tahu dia saja. Dia ada di tempat biasa.” Jawab gadis yang lainnya.

Di dalam perpustakaan.
“Mandy. Ternyata kamu disini.” Kata gadis yang tadi menanyakan keberadaan Mandy.
“Iya. Aku memang selalu disini, kan?” Jawab Mandy yang sedang asyik membaca sebuah buku yang sepertinya sudah lama berada di perpustakaan itu jika dilihat dari kertasnya yang sudah mulai menguning.
“Iya, aku lupa. Hehe. Ngomong-ngomong, dosen mencarimu tadi. Dia ada di ruangannya.” Kata teman Mandy itu.
“Oh ya? Hmm…. Ada apa ya? Baiklah, aku akan segera kesana.” Jawab Mandy sambil mengembalikan buku yang dibacanya tadi ke tempatnya semula.

Di sisi lain, di dalam perpustakaan.
“Billy, sudah saatnya kita kembali. Ayo.” Kata seorang pria kepada Billy.
Billy yang sepertinya sedang mengerjakan tugasnya membalasnya dengan senyuman. Billy memasukkan buku-buku dan alat tulisnya ke dalam tas dan mereka berjalan bersama keluar dari perpustakaan.

Perpustakaan yang ada di dalam kampus itu adalah perpustakaan terbesar di wilayahnya. Tidak heran jika ada dua orang yang tidak saling mengenal satu sama lain walaupun mereka selalu berada di dalam perpustakaan itu setiap hari. Hal itu pula yang dialami oleh Billy dan Mandy. Dua orang mahasiswa yang tidak mengenal satu sama lain.

Suatu hari, saat sedang asyik membaca Billy dihampiri oleh seorang gadis yang tidak mendapat tempat di dalam perpustakaan itu. Hari itu adalah hari Senin. Hari dimana warga kampus sedang sibuk mencari-cari bahan untuk tugas mereka. Itu adalah hari dengan pengunjung terbanyak dalam seminggu perpustakaan itu beroperasi. Gadis yang menghampiri Billy adalah Mandy. Karena sedang mengurus berbagai hal, dia terlambat pergi ke perpustakaan. Akibatnya, tempat favoritnya sudah ditempati oleh mahasiswa yang lain.
Mandy meminta izin kepada Billy untuk duduk di sebelahnya karena hanya tempat itulah yang sedang kosong sekarang. Billy hanya tersenyum dan kembali membaca buku yang tengah dibacanya. Di dalam hatinya, Mandy berpikir kalau pria ini adalah orang yang sombong dan tidak sopan. Tapi dia tidak mempedulikannya. Dia segera duduk dan membaca buku yang telah dia ambil dari salah satu rak buku yang ada di perpustakaan itu.
Setelah hari itu, mereka menjadi sering tersenyum satu sama lain jika bertemu di dalam perpustakaan. Walaupun tidak pernah bicara satu sama lain, tapi mereka menikmati waktu yang mereka habiskan bersama di dalam perpustakaan untuk membaca buku. Sebenarnya, Mandy sangat penasaran dengan Billy. Pria yang tampan dan pendiam terkesan misterius. Tapi, karena dia berpikir kalau Billy adalah orang yang sombong jadi dia tidak mengajaknya bicara.
Sejak saat itu, setiap teman Mandy menjemputnya di perpustakaan dia selalu melihat Mandy duduk bersama Billy. Karena rasa ingin tahunya besar, temannya segera menanyakan mengapa Mandy sering duduk bersama Billy.
“Mandy, sepertinya akhir-akhir ini aku melihat kamu sering duduk bersama dengan Billy.” Kata temannya kepada Mandy.
“Billy? Billy siapa?” Tanya Mandy kepada temannya.
“Lho? Kamu tidak tahu? Yang sering duduk bersamamu itu adalah Billy. Mahasiswa yang mendapat beasiswa dan melanjutkan kuliah di kampus ini.” Jawab temannya kepada Mandy.
“Oh…. Jadi namanya adalah Billy. Aku baru tahu.” Kata Mandy. Dia melanjutkan, “Billy itu sepertinya orang yang sombong ya. Tidak pernah mau berbicara padaku.”
“Bukan. Dia sama sekali bukan orang yang sombong. Malah sebenarnya dia adalah orang yang sangat ramah.” Kata teman Mandy menerangkan.
“Tapi, jika bersamaku dia tidak mau bicara. Apakah aku pernah berbuat salah padanya? Kurasa tidak. Tahu namanya saja baru sekarang.” Kata Mandy.
“Ya. Dia seperti itu bukan hanya padamu saja. Dia seperti itu kepada kita semua.” Kata teman Mandy. Dia melanjutkan, “Dia seperti itu karena dia adalah seorang yang bisu.”


Mandy terkejut mendengar hal itu. Jadi…. Selama ini Mandy berpikir bahwa Billy adalah orang yang sombong itu salah. Bukan tidak ingin bicara, tapi tidak bisa bicara. Akhirnya Mandy mengerti. Mengapa selama ini Billy hanya tersenyum setiap kali ada yang mengajaknya bicara.
Mandy segera mencari informasi tentang Billy. Ternyata, tidak sulit baginya untuk mendapatkan informasi tentang Billy. Karena, semua tahu Billy adalah satu-satunya mahasiswa yang cacat dan juga seorang yatim piatu. Tidak seperti yang lainnya. Karena memang, pada dasarnya kampus tempat mereka menimba ilmu itu adalah kampus swasta yang diperuntukkan untuk orang-orang yang normal. Terkecuali untuk Billy, anak jenius yang memiliki kecerdasan jauh diatas rata-rata. Karena itu, walaupun dia memiliki kekurangan, dia tetap diterima dan mengikuti pelajaran seperti biasa. Dia membuktikan, bahwa dia mampu. Dia mampu belajar seperti anak-anak lain yang normal. Bahkan, dia melakukannya jauh lebih baik dari mereka.
Karena ingin berteman dengan Billy, Mandy mencoba untuk belajar bahasa isyarat. Setelah dia mencobanya, ternyata tidak semudah yang dia bayangkan. Sungguh sulit bahasa isyarat yang dia pelajari. Karena kesulitan belajar sendiri, dia berpikir untuk meminta pertolongan Billy untuk mengajarinya. Dia menggunakan kesempatan ini untuk berteman dengan Billy.
Seperti biasa, Billy sedang asyik membaca di tempat yang seolah hanya miliknya seorang. Tidak pernah Mandy melihat orang lain menempati tempat itu. Atau karena Billy tidak pernah beranjak dari tempat itu. Mandy memberanikan diri menyapa Billy dan dibalas dengan senyuman, seperti biasanya. Tapi kali ini, Mandy tidak berpikir kalau Billy adalah seorang yang sombong. Karena dia sudah tahu yang sebenarnya.
Mandy mencoba mengajaknya berbicara. Dengan buku tulis yang telah dia persiapkan khusus untuk mengobrol dengan Billy. Ya, Mandy mencoba berbicara dengan Billy melalui tulisan. Dan ternyata Billy merespon Mandy dengan baik. Mereka bercakap-cakap lewat tulisan. Setiap hari, buku itu semakin penuh dengan tulisan mereka berdua. Mandy meminta Billy mengajarinya bahasa isyarat, dan Billy mengajarinya sedikit demi sedikit. Mereka melewati hari-hari mereka dengan kebahagiaan. Mereka selalu menantikan pertemuan-pertemuan mereka selanjutnya. ‘Terasa seperti janji kencan saja.’ Pikir mereka.
Seperti hari-hari yang lalu. Billy menanti kedatangan Mandy sambil membawakan sebuah buku tentang bahasa isyarat yang dia dapatkan dengan menggunakan sebagian tabungannya. Padahal, tabungannya itu adalah satu-satunya yang dia miliki. Untuk mencapai cita-citanya, tentu saja dia harus berjuang lebih keras daripada orang lain. Ditambah dengan statusnya sebagai yatim piatu. Semua beasiswa yang telah dia peroleh selama ini, selalu dia berikan untuk pembangunan panti asuhan yang telah merawatnya sejak kecil hingga saat ini. Karena panti asuhan itu bukanlah panti asuhan yang besar dan bagus. Tapi itu adalah panti asuhan yang kecil dan sederhana. Karenanya, Billy menggunakan uang yang didapat dari beasiswa itu untuk melunasi hutang-hutang yang dimiliki oleh panti asuhan tempatnya berada.
Billy terus menanti kedatangan Mandy. Tiga puluh menit berlalu, Mandy tidak kunjung datang. Padahal, saat itu waktu menunjukkan pukul dua siang. Waktu saat mereka bertemu. Karena Mandy tidak kunjung datang, Billy segera keluar dan mencari Mandy. Ketika sedang berlari-lari menelusuri koridor kampus, Billy bertemu dengan teman yang biasanya selalu bersama dengan Mandy. Kemudian Billy bertanya kepadanya tentang keberadaan Mandy. Kebetulan teman Mandy ini sedikit mengerti dengan bahasa isyarat. Dan, teman Mandy mengatakan sesuatu yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya. Mandy sedang berada di rumah sakit.
Akhirnya, Billy mengetahui keadaan Mandy setelah diceritakan oleh teman Mandy tersebut. Sejak kecil Mandy menderita penyakit jantung. Jantungnya lemah, tidak seperti orang-orang pada umumnya. Karena itulah, Mandy tidak boleh melakukan aktivitas yang terlalu berat karena jantungnya tidak akan kuat menerima beban-beban itu. Dan karena itu juga Mandy jadi lebih suka pergi ke perpustakaan untuk membaca. Terlebih dengan adanya Billy yang menemaninya disana. Itu membuatnya semakin bersemangat pergi ke perpustakaan. Dan, karena itu pula Mandy memaksakan diri berlatih bahasa isyarat di rumahnya hingga larut malam.
Tibalah Billy di RS X tempat Mandy dirawat. Karena terlalu terburu-buru, Billy lupa menanyakan kamar tempat Mandy dirawat. Untuk bertanya kepada orang yang berada di resepsionis pun dia tidak bisa. Karena petugas resepsionis itu tidak mengerti bahasa isyarat yang Billy gunakan. Untuk menulis nama Mandy pun dia tidak tahu nama lengkap Mandy. Akhirnya dia melihat di buku daftar pasien dan menemukan pasien yang bernama depan Mandy sebanyak lima orang.
Billy mencari kamar pasien bernama Mandy itu satu persatu. Orang-orang yang berada di rumah sakit itu melihat dia yang begitu giat mencari kamar gadis bernama Mandy. Karena, kamar-kamar tempat para Mandy itu dirawat tidak di dalam satu lantai yang sama. Kelima Mandy itu masing-masing dirawat di dalam kamar di tiap-tiap lantai yang berbeda-beda. Sehingga, Billy harus naik dan turun kembali untuk memastikan dia tidak salah mengenali Mandy. Setelah mencari kelima kamar para Mandy tersebut, dia tidak menemukan Mandy yang dia cari.
Billy yang sudah kelelahan mulai berpikir untuk kembali. “Mungkin dia ada di rumah sakit lainnya.” Pikirnya di dalam hati. Dia sudah berniat untuk pergi. Namun, ketika dia menoleh ke arah ruang ICU di melihat seorang gadis yang dia cari sejak tadi. Dia melihat Mandy yang sedang terbaring lemah disana.
“Akhirnya aku menemukanmu, Mandy.” Kata Billy di dalam hatinya. Dengan segera Billy meminta izin kepada keluarga Mandy dengan gerakan tubuh. Untunglah keluarga Mandy mengerti dan mereka sudah mengenal Billy karena Mandy selalu menceritakan tentang Billy kepada keluarganya.
Di dalam ruangan itu, Billy melihat begitu banyak alat-alat bantu dipasangkan pada tubuh Mandy. Alat-alat itu dipasangkan untuk berjaga-jaga. Agar jangan sampai detak jantung Mandy berhenti dengan tiba-tiba.
Dengan susah payah, Mandy berusaha tersenyum dan mencoba untuk mengambil buku tulis yang biasa dia gunakan untuk berbicara dengan Billy di meja yang ada di dekat tempatnya berbaring. Mandy menulis sesuatu di buku itu, dia berkata “Terima kasih untuk segalanya.” Dan Billy segera membalasnya, “Jangan berkata seperti itu, Mandy! Jangan putus asa! Berjuanglah!”
Mandy hanya tersenyum. Dan tidak lama kemudian, kondisi Mandy menjadi kritis. Dia hilang kesadaran. Billy diminta untuk keluar dari kamar itu. Dokter segera menggunakan alat kejut jantung agar jantung Mandy kembali berdetak. Tapi Mandy tetap tidak sadarkan diri.
Hampir satu bulan Mandy tidak sadarkan diri. Ketika dia telah kembali sadar, dia mencari Billy. Dia bertanya kepada keluarganya dimana Billy berada. Tapi, keluarganya menjawab kalau Billy sudah tidak akan bisa bertemu dengan Mandy lagi. Karena Billy telah memberikan jantungnya yang sehat kepada Mandy.
Beberapa waktu telah dilewati Mandy untuk memulihkan kesehatannya. Akhirnya dokter memperbolehkan Mandy untuk kembali ke rumahnya karena dia telah pulih sepenuhnya. Dengan semangat Mandy membereskan barang-barang bawaannya agar segera dibawa pulang ke rumahnya. Pada saat dia sedang membereskan barang-barangnya, dia melihat buku tulis yang dia gunakan untuk berbicara dengan Billy.
Ketika Mandy membuka-buka buku itu dan membaca kembali apa saja yang telah dia tulis bersama dengan Billy. Airmatanya mengalir ketika dia mengingat masa-masa yang indah itu tidak akan terulang lagi. Saat dia membuka lembaran terakhir, airmatanya mengalir dengan sangat deras. Karena, dia melihat tulisan tangan Billy yang terakhir kalinya sebelum Billy memberikan jantungnya kepada Mandy.
Di dalam buku itu, Billy menulis demikian,
“Mandy, aku merasakan kebahagiaan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya sejak aku berjumpa denganmu. Kau membuat hari-hariku menjadi indah. Kau mengajarkan kepadaku bagaimana rasanya mencintai. Kau membuat hariku yang selama ini hidup di dalam kesendirian menjadi cerah. Aku jatuh cinta kepadamu. Namun, aku takut. Hatiku selalu dipenuhi perasaan takut karena mencintaimu. Kau tahu, bahwa aku bukanlah lelaki yang sempurna. Aku tidak seperti lelaki lainnya. Aku cacat. Aku takut tidak bisa membahagiakanmu. Akupun takut jika kelak, aku menjadi beban untuk dirimu karena keadaanku yang seperti ini. Hal itu yang selalu membuatku mengurungkan niatku untuk mengatakan betapa aku mencintaimu. Tapi sekarang, kupikir inilah saat yang tepat untuk membuktikan betapa aku mencintaimu. Aku tidak bisa memberikan apapun untuk menolongmu…. Selain jantungku yang masih bisa berdetak dengan baik ini…. Kau masih bisa melanjutkan hidupmu. Pergunakanlah dengan sebaik-baiknya. For me you are my everything, Mandy. And, because you are my everything, I give you everything. For the last time, I just wanna say ‘I love You’.”

Mandy tidak kuasa menahan tangisnya yang semakin keras. Mandy memutuskan untuk meneruskan hidup dengan hidup yang telah diberikan oleh Billy untuknya. Mandy kemudian menutup buku itu dan menyimpan kenangan-kenangan bersama dengan Billy di hatinya, selamanya….

For you…. Pernahkan kau mengucap syukur untuk hidupmu? Pernahkah kau mengucap syukur untuk kesehatan, fisik yang sempurna dan segalanya yang ada pada dirimu? Sekali saja…. Hanya sekali, ucapan syukur yang penuh dengan ketulusan dari hatimu yang terdalam. Jika belum, ucapkanlah syukur…. Dan kau akan merasakan perubahan yang sangat besar di dalam hidupmu.

Bagaimana menurut pendapat Anda dengan cerita ini?? di comment ya… ^^

 
Comments Off on I Just Wanna Say ‘I Love You’

Posted by on November 4, 2011 in Story Lovely

 

Comments are closed.

 
%d bloggers like this: